Home >> Training And Education
DESMA Center bekerja mewujudkan pariwisata berkelanjutan melalui konsultansi dan implementasi intervensi pada semua level destinasi pariwisata dengan pendekatan keberlanjutan. Kami memberikan layanan perencanaan, pengelolaan, pengembangan, dan pemasaran destinasi pariwisata dengan pendekatan strategis pariwisata berkelanjutan. Sejak didirikan pada 2010, DESMA Center terus mendorong serta melibatkan pemerintah, sektor swasta, masyarakat, asosiasi dan pemangku kepentingan lain dalam memfasilitasi pengembangan destinasi pariwisata dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan yang berkelanjutan. Dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan sebagai prinsip dasar, kami konsisten dan professional dalam memberikan layanan terbaik. Kunci kesuksesan kami adalah komitmen memberikan kualitas oleh setiap anggota team.
DESMA adalah singkatan DEStination MAnagement, karena kami percaya bahwa ekosistem kepariwisataan yang berkelanjutan, inklusif, terpadu dan berkualitas dimulai dari perencanaan, pengembangan dan pengelolaan destinasi pariwisata yang strategis, efektif dan aplikatif sesuai prinsip-prinsip keberlanjutan.
Communication Unit 27 Februari 2026 Jakarta Penulis: Dani Fauzi, Programme Officer
Jakarta, 25 Februari 2026 — DESMA Center bersama Asisten Deputi Strategi Event, Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan, Kementerian Pariwisata, memaparkan dokumen Peta Jalan Pengembangan Industri Event Pariwisata Indonesia 2025–2029 kepada Menteri Pariwisata, Ibu Widiyanti Putri Wardhana di Gedung Sapta Pesona, Jakarta. Dokumen strategis ini memuat 6 area strategis, 28 rencana aksi, dan 107 indikator kinerja yang dirancang untuk membawa visi Indonesia menjadi destinasi event pariwisata berkelas dunia yang berdaya saing dan berkelanjutan global menuju tahun 2045.
DESMA Center menyampaikan peta jalan ini disusun melalui proses konsultasi mendalam bersama 22 pelaku usaha dan asosiasi industri, serta selaras dengan agenda nasional RPJMN 2025–2029 dan visi Indonesia Emas 2045. Empat fase implementasi dirancang secara bertahap, dengan rincian:
1. 2025–2026: Penguatan Regulasi, Tata Kelola, dan Kelembagaan;
2. 2026–2027: Penguatan Kapasitas Industri, Standardisasi, Konektivitas dan Sistem Pendukung Event Pariwisata Nasional;
3. 2027–2028: Implementasi Infrastruktur, Aktivasi Portofolio IP Event Pariwisata dan Event Berkelanjutan; serta
4. 2028–2029: Regulasi Strategis, Akselerasi Investasi, dan Insentif Keberlanjutan.
Setiap tahap dilengkapi Rencana Aksi, Kegiatan Kunci, dan Indikator untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas pelaksanaan.
Kementerian Pariwisata melalui Ibu Menteri Widiyanti Putri Wardhana beserta jajarannya, menyambut baik dokumen ini dan menegaskan komitmen Kementerian Pariwisata untuk mendorong penguatan industri event sebagai penggerak utama devisa pariwisata nasional, dengan target penerimaan devisa pariwisata mencapai USD 32–39,4 miliar pada 2029.
Kehadiran peta jalan ini diharapkan menjadi landasan kolaborasi bagi 70 pemangku kepentingan yang beririsan dengan industri event pariwisata yakni pemerintah, asosiasi profesional, supplier pendukung/pemasok, pengelola/penyedia media, operator venue, biro konvensi dan pameran, manajemen event dan penyelenggara profesional, pengelola/penyedia platform digital, akademisi, serta pihak pendukung, dalam membangun ekosistem event pariwisata Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Communication Unit 08 Desember 2025 Jakarta Penulis: Siti Nur Hasbiyana, Programme Associate and Outreach
Pariwisata merupakan sektor penting di ASEAN; berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, namun juga menghasilkan limbah dalam jumlah besar, terutama plastik sekali pakai. Di banyak destinasi pariwisata, pengelolaan sampah sudah berada di bawah tekanan, dan tambahan limbah dari jutaan wisatawan setiap tahunnya semakin menyulitkan pemerintah daerah dalam menjaga kebersihan, daya tarik, serta keberlanjutan lingkungan perkotaan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, proyek kerja sama ASEAN–Jerman ASEAN Municipal Solid Waste Management Enhancement (AMUSE) yang diimplementasikan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH atas mandat Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), bekerja sama dengan Sekretariat ASEAN, bertujuan meningkatkan pengelolaan sampah di beberapa kota yang menjadi destinasi pariwisata di ASEAN. Melalui pengembangan kapasitas dan kota percontohan di Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam, AMUSE mendukung pemerintah, sektor pariwisata, dan masyarakat lokal dalam menerapkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan sensitif gender.

DESMA Center, sebagai mitra pelaksana proyek GIZ-AMUSE, diwakili oleh Dicky Mardyan, Co-Founder dan Director DESMA Center, serta Dr. Baskoro Lokahita, Expert DESMA Center menghadiri dan menjadi keynote speaker pada salah satu sesi Lokakarya Regional dan Diseminasi proyek AMUSE di Jakarta, 4 Desember 2025. Acara ini bertujuan untuk memaparkan serta meninjau pencapaian dan pengetahuan yang diperoleh dari proyek GIZ-AMUSE. Acara ini dilaksanakan dengan format sidang pleno, talkshow, dan pameran; diakhiri dengan diskusi mengenai penerapan langkah konkret dari pembelajaran proyek GIZ-AMUSE untuk rencana proyek mendatang. Selain DESMA Center, diseminasi proyek ini juga dihadiri mitra-mitra GIZ AMUSE lainnya, yaitu Wakil Gubernur Provinsi Siem Reap Kamboja, Universitas Chulalongkorn Thailand, Otoritas Pengembangan dan Administrasi Perkotaan Lao PDR.
Penutupan Lokakarya Regional Diseminasi AMUSE menjadi penutup dari proyek kerja sama ASEAN–Jerman GIZ-AMUSE yang dilaksanakan secara regional dari April 2022 hingga Desember 2025. Proyek ini diharapkan dapat menjadi percontohan untuk direplikasi banyak destinasi pariwisata di kawasan ASEAN, sehingga mendukung visi ASEAN menuju pariwisata hijau, inklusif, dan berkelanjutan.
Communication Unit 05 November 2025 Jakarta Penulis: Siti Nur Hasbiyana, Programme Associate and Outreach
Menindaklanjuti acara tahunan International Tourism Investment Forum (ITIF), DESMA Center kembali bermitra dengan Deputi Bidang Industri dan Investasi, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk ITIF 2026. ITIF dilaksanakan sebagai salah satu platform percepatan investasi pariwisata di Indonesia dengan melakukan fasilitasi negosiasi investasi serta memperlihatkan proyek-proyek pariwisata Indonesia.
ITIF yang dilaksanakan pada tahun 2024, fokus kepada investasi untuk pariwisata berkelanjutan dengan pendekatan planet, people, prosperity. ITIF 2024 berhasil memfasilitasi 6 Memorandum of Understanding (Mou) dengan total nilai investasi Rp. 862,8 miliar. Dengan capaian yang telah didapatkan di 2024, ITIF 2026 diharapkan memberi capaian lebih dengan tema acara industri pariwisata kesehatan dan kebugaran.
Rapat koordinasi pelaksanaan ITIF 2026 diadakan di Jakarta, 30 Oktober 2025. Sesuai hasil diskusi dengan team Kementerian Pariwisata yang dilaksanakan sebelumnya, Ibu Wiwik Mahdayani, founder dan executive director DESMA Center memaparkan rencana ITIF 2026 beserta format acara yang sesuai dengan target ITIF 2026. Konsep ITIF 2026 fokus pada showcase proyek pariwisata kesehatan dan kebugaran untuk mendatangkan investasi. Pada rapat ini, Ibu Ir. Rizki Handayani Mustafa, MBTM, Deputi Bidang Industri dan Investasi, hadir dan menyampaikan bahwa ITIF 2026 tidak hanya fokus fasilitasi investasi, namun juga eksibisi produk pariwisata kebugaran dan kesehatan Indonesia serta konferensi mengenai kesempatan investasi dalam industri pariwisata kebugaran dan kesehatan Indonesia.
ITIF 2026 diharapkan akan melanjutkan pencapaian ITIF 2024 dan menjadi katalis dalam meningkatnya investasi pariwisata Indonesia khususnya pada industri pariwisata kesehatan dan kebugaran. Meningkatnya investasi akan memberikan peluang Indonesia menjadi destinasi pariwisata kebugaran kelas dunia.
Communication Unit 12 Desember 2025 Jakarta Penulis: Siti Nur Hasbiyana, Programme Associate and Outreach
International Tourism Investment Forum (ITIF) adalah forum investasi pariwisata inisiasi Deputi Bidang Industri dan Investasi, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia. Melanjutkan kesuksesan dari pelaksanaan dua ITIF sebelumnya, yaitu ITIF 2023 dan ITIF 2024, ITIF 2026 akan kembali dengan konsep utama wellness tourism (pariwisata kebugaran). Pemilihan pariwisata kebugaran menjadi tema utama ITIF 2026, sejalan dengan flagship program Kementerian Pariwisata yang mengusung konsep marine tourism (bahari), gastro tourism (kuliner), dan wellness tourism.
Menuju ITIF 2026, Kemenpar dan DESMA Center, sebagai knowledge partner, melaksanakan rapat koordinasi ITIF 2026. Rapat ini dilaksanakan di Jakarta, 28 November 2025. Pada rapat ini membahas penyempurnaan format dan konsep ITIF 2026. Dicky Mardyan, Co-Founder dan Director dari DESMA Center, memberikan masukan mengenai konsep dan pelaksanaan forum tersebut.
Penyelenggaraan ITIF 2026 ini diharapkan menjadi katalis dalam peningkatan investasi pariwisata kesehatan dan kebugaran Indonesia. Peningkatan investasi pariwisata kesehatan dan kebugaran dapat mengakselerasi posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata kesehatan dan kebugaran yang berkualitas, berkelanjutan dan berdaya saing global.
Sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan, forum ini dirancang menghasilkan keluaran konkret yang akan ditindaklanjuti, antara lain: pipeline peluang investasi terkurasi, sesi business matching dan one-on-one meeting antara pemilik proyek, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan calon investor; komitmen kerja sama dengan skema kolaborasi yang relevan, paket informasi investasi; serta rencana tindak lanjut pascakegiatan.
Pelaksanaan ITIF 2026 bukan sekadar agenda tahunan, melainkan langkah terukur untuk memperluas investasi yang mendorong inovasi, mempertemukan peluang, komitmen, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, peningkatan layanan, dan transformasi destinasi pariwisata. Dengan arah pembangunan ekosistem pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, Indonesia siap memperkuat posisi sebagai destinasi pariwisata kesehatan dan kebugaran global.
Communication Unit 10 November 2025 Bogor Penulis: Siti Nur Hasbiyana, Programme Associate and Outreach
Sebagai bentuk koordinasi untuk finalisasi dokumen Peta Jalan yang sedang disusun, Asisten Deputi (Asdep) Strategi Event, Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events), Kementerian Pariwisata melaksanakan Rapat Tindak Lanjut Pemaparan Finalisasi Peta Jalan Pengembangan Industri Event Pariwisata Indonesia pada 5-8 November 2025.
Rapat ini bertujuan untuk koordinasi dengan jajaran Asisten Deputi Strategi Event Pariwisata terkait substansi terkini dokumen Peta Jalan setelah hasil sinkronisasi dan harmonisasi antar kementerian/lembaga dan internal kedeputian, diterima dari Diskusi Kelompok Terpumpun ( (DKT) I, II dan III. Rapat Tindak Lanjut finalisasi ini dihadiri oleh Bapak Fransiskus Handoko, SST.Par., M.Sc, Asdep Strategi Event, Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events), Kementerian Pariwisata. Beliau menyampaikan penyelenggaraan kegiatan ini adalah upaya untuk memperkuat substansi dokumen peta jalan dengan partisipasi aktif seluruh jajaran Asdep Strategi Event, sehingga dokumen peta jalan dapat mendukung industri event pariwisata Indonesia yang inovatif, berkualitas, berkelanjutan dan berdaya saing global.

DESMA Center sebagai narasumber dan mitra penyusun dokumen peta jalan hadir dalam rapat tindak lanjut, diwakili oleh Dani Fauzi, Indriyani Handyastuti, dan Hanesman Alkhair. DESMA Center memaparkan kondisi eksisting, tantangan dan peluang, serta strategi yang telah disusun pada dokumen Peta Jalan Pengembangan Industri Event Pariwisata Indonesia.
Dalam kesempatan ini, pembahasan program yang sudah berjalan dan penyelarasan substansi juga didiskusikan. Hal ini dilakukan agar dokumen peta jalan tetap relevan dan adaptif.
Dokumen Peta Jalan Pengembangan Industri Event Pariwisata Indonesia diharapkan menjadi acuan lintas kementerian/lembaga dan membantu pengembangan industri event pariwisata Indonesia menjadi industri yang inovatif, berkualitas, berkelanjutan dan berdaya saing global.
Communication Unit 24 November 2025 Bogor Penulis: Siti Nur Hasbiyana, Programme Associate and Outreach
Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2025 adalah ajang penghargaan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk mengapresiasi dedikasi para pelaku pariwisata. Penghargaan ini memiliki beberapa kategori, beberapa adalah Green Events dan Key Figure in Event Industry.
Kategori Green Events adalah penghargaan kepada event pariwisata yang menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan. Kategori Key Figure in Event Industry adalah penghargaan kepada tokoh industri event pariwisata dengan prestasi dan inovasi. Proses penjurian kedua kategori ini dilaksanakan pada 20-21 November 2025 di Sentul, Jawa Barat. Rapat ini dihadiri oleh perwakilan Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events), termasuk Asisten Deputi Strategi Event, dewan juri dan DESMA Center sebagai mitra Kemenpar.
.jpg)
Pada proses penjurian ini, dewan juri memberikan masukan, review dan penilaian terhadap hasil kurasi nominasi shortlisted dua kategori tersebut. Rapat kemudian dilanjutkan dengan pemaparan total penilaian dewan juri. Hasil penilaian akan disampaikan pada puncak acara WIA 2025 yang akan dilaksanakan pada 5 Desember 2025.
Pelaksanaan WIA 2025 diharapkan dapat mendorong dan memberikan motivasi kepada para pelaku usaha pariwisata untuk terus berinovasi dalam mewujudkan ekosistem pariwisata Indonesia yang berkelanjutan, berkualitas dan berdaya saing global.
Communication Unit 18 November 2025 Jakarta Penulis: Siti Nur Hasbiyana, Programme Associate and Outreach
Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2025 adalah ajang penghargaan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kepada pelaku sektor pariwisata atas kontribusi dan dedikasi dalam memajukan pariwisata Indonesia. WIA 2025 akan memberi penghargaan berbagai kategori, seperti daya tarik wisata, green event sampai mitra kolaborasi. WIA 2025 resmi dibuka pada September 2025 secara daring, dengan pelaksanaan puncak acara pada 5 Desember 2025.
DESMA Center sebagai salah satu kurator kategori Sustainable Hotel, bekerja sama dengan Asisten Deputi Manajemen Usaha Pariwisata Berkelanjutan, Deputi Bidang Industri dan Investasi, Kementerian Pariwisata. Rapat dilakukan pada 13 Oktober 2025 untuk memberi masukan terhadap indikator dan melakukan review terhadap hotel-hotel yang sudah mendaftar. Selanjutnya, dilaksanakan proses kurasi dan penjurian.
Hasil kurasi kemudian dipaparkan dan didiskusikan pada seri rapat kurasi Selasa, 11 November 2025 dan Jumat, 14 November 2025. WIA 2025 kategori Sustainable Hotel dibuka untuk hotel bintang 4 dan 5 dengan indikator penilaian berupa kebijakan dan tindakan lingkungan untuk operasional hotel; penggunaan produk ramah lingkungan; efisiensi energi; pengembangan SDM; pengelolaan limbah padat; efisiensi air dan kualitas air; pengelolaan kualitas udara; serta keterlibatan atau kolaborasi dengan masyarakat dan organisasi lokal.
Kategori Sustainable Hotel WIA 2025 adalah bentuk apresiasi terhadap hotel yang menerapkan prinsip keberlanjutan pada operasional dan manajemen usaha. Penerapan prinsip keberlanjutan ini tidak hanya pada aspek keberlanjutan lingkungan, namun juga kontribusi nyata kepada masyarakat setempat di sekitar lokasi usaha. Dengan penghargaan ini, diharapkan akan memperluas dan mendorong praktik keberlanjutan sehingga memperkuat daya saing pariwisata Indonesia sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
All rights reserved | Desmacenter
Ut enim ad minima veniam, quis nostrum exercitationem ullam corporis suscipit laboriosam, nisi ut aliquid ex ea commodi consequatur? Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem eum fugiat quo voluptas nulla pariatur. " Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur.